Jumat, 01 Juni 2012

TRACHEOSTOMY


A.     Pengertian Trakeostomi


Trakeostomi adalah suatu tindakan dengan membuka dinding depan/anterior trakea untuk mempertahankan jalan nafas agar udara dapat masuk ke paru-paru dan memintas jalan nafas bagian atas.
Trakeostomi adalah prosedur dimana dibuat lubang kedalam trakea. (Smeltzer & Bare, 2002)
Trakeostomi adalah insisi operasi dimana memasukkan selang ke dalam trakea agar klien dapat bernafas dengan lebih mudah dan mengeluarkan sekretnya. ( Putriardhita, C, 2008)
Ketika selang indwelling dimasukkan kedalam trakea, maka istilah trakeostomi digunakan. Trakeostomi dapat menetap atau permanent. Trakeostomi dilakukan untuk memintas suatu obstuksi jalan nafas atas, untuk membuang sekresi trakeobronkial, untuk memungkinkan penggunaan ventilasi mekanis jangka panjang, untuk mencegah aspirasi sekresi oral atau lambung pada pasien tidak sadar atau paralise (dengan menutup trakea dari esophagus), dan untuk mengganti selang endotrakea, ada banyak proses penyakit dan kondisi kedaruratan yang membuat trakeostomi diperlukan.
B.    Indikasi Trakeostomi
Indikasi trakeostomi termasuk sumbatan mekanis pada jalan nafas dan gangguan non obstruksi yang mengubah ventilasi. Gejala-gejala yang mengindikasikan adanya obstruksi pada jalan nafas;
Timbulnya dispneu dan stridor eskpirasi yang khas pada obstruksi setinggi atau di bawah rima glotis terjadinya retraksi pada insisura suprasternal dan supraklavikular.
Pasien tampak pucat atau sianotik
Disfagia
Pada anak-anak akan tampak gelisah
Tindakan trakeostomi akan menurunkan jumlah udara residu anatomis paru hingga 50 persennya. Sebagai hasilnya, pasien hanya memerlukan sedikit tenaga yang dibutuhkan untuk bernafas dan meningkatkan ventilasi alveolar. Tetapi hal ini juga sangat tergantung pada ukuran dan jenis pipa trakeostomi.
Gangguan yang mengindikasikan perlunya trakeostomi;
Terjadinya obstruksi jalan nafas atas
Sekret pada bronkus yang tidak dapat dikeluarkan secara fisiologis, misalnya pada pasien dalam keadaan koma.
Untuk memasang alat bantu pernafasan (respirator).
Apabila terdapat benda asing di subglotis.
Penyakit inflamasi yang menyumbat jalan nafas (misal angina ludwig), epiglotitis dan lesi vaskuler, neoplastik atau traumatik yang timbul melalui mekanisme serupa
Mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran nafas atas seperti rongga mulut, sekitar lidah dan faring. Hal ini sangat berguna pada pasien dengan kerusakan paru, yang kapasitas vitalnya berkurang.
Indikasi lain yaitu:
Cedera parah pada wajah dan leher
Setelah pembedahan wajah dan leher
Hilangnya refleks laring dan ketidakmampuan untuk menelan sehingga mengakibatkan resiko tinggi terjadinya aspirasi.
 C.   Klasifikasi Trakeostomi
Menurut Sakura 21 (2009), trakeostomi dibagi atas 2 (dua) macam, yaitu berdasarkan letak trakeostomi dan waktu dilakukan tindakan. Berdasarkan letak trakeostomi terdiri atas letak rendah dan letak tinggi dan batas letak ini adalah cincin trakea ketiga. Sedangkan berdasarkan waktu dilakukan tindakan maka trakeostomi dibagi dalam:
Trakeostomi darurat (dalam waktu yang segera dan persiapan sarana sangat kurang)
Trakeostomi berencana (persiapan sarana cukup) dan dapat dilakukan secara baik.
D.   Kegunaan Trakeostomi
Menurut Masdanang (2008), kegunaan dilakukannya tindakan trakeostomi antara lain adalah:
Mengurangi jumlah ruang hampa dalam traktus trakheobronkial 70 sampai 100 ml. Penurunan ruang hampa dapat berubah ubah dari 10% sampai 50% tergantung pada ruang hampa fisiologik tiap individu.
Mengurangi tahanan aliran udara pernafasan yang selanjutnya mengurangi kekuatan yang diperlukan untuk memindahkan udara sehingga mengakibatkan peningkatan regangan total dan ventilasi alveolus yang lebih efektif. Asal lubang trakheostomi cukup besar (paling sedikit pipa 7).
Proteksi terhadap aspirasi.
Memungkinkan pasien menelan tanpa reflek apnea, yang sangat penting pada pasien dengan gangguan pernafasan.
Memungkinkan jalan masuk langsung ke trachea untuk pembersihan.
Memungkinkan pemberian obat-obatan dan humidifikasi ke traktus.
Mengurangi kekuatan batuk sehingga mencegah pemindahan secret ke perifer oleh tekanan negatif intra toraks yang tinggi pada fase inspirasi batuk yang normal.

E.   Jenis Tindakan Trakeostomi
1.    Surgical trakeostomy
Tipe ini dapat sementara dan permanen dan dilakukan di dalam ruang operasi. Insisi dibuat diantara cincin trakea kedua dan ketiga sepanjang 4-5 cm.
2.    Percutaneous Tracheostomy
Tipe ini hanya bersifat sementara dan dilakukan pada unit gawat darurat. Dilakukan pembuatan lubang diantara cincing trakea satu dan dua atau dua dan tiga. Karena lubang yang dibuat lebih kecil, maka penyembuhan lukanya akan lebih cepat dan tidak meninggalkan scar. Selain itu, kejadian timbulnya infeksi juga jauh lebih kecil.
 3.   Mini tracheostomy
Dilakukan insisi pada pertengahan membran krikotiroid dan trakeostomi mini ini dimasukan menggunakan kawat dan dilator.

F.   Komplikasi Trakeostomi
Menurut Ilham (2010), komplikasi yang terjadi pada tindakan trakeostomi dibagi atas:
1.   Komplikasi dini
Perdarahan
Pneumothoraks terutama pada anak-anak
Aspirasi
Henti jantung sebagai rangsangan hipoksia terhadap respirasi
Paralisis saraf rekuren

G.   Jenis Pipa Trakeostomi
1.    Cuffed Tubes
Selang dilengkapi dengan balon yang dapat diatur sehingga memperkecil risiko timbulnya aspirasi.
2.    Uncuffed Tubes
Digunakan pada tindakan trakeostomi dengan penderita yang tidak mempunyai risiko aspirasi.
3.    Trakeostomi Dua Cabang (dengan kanul dalam)
Dua bagian trakeostomi ini dapat dikembangkan dan dikempiskan sehingga kanul dalam dapat dibersihkan dan diganti untuk mencegah terjadi obstruksi.
 4.   Silver Negus Tubes
Terdiri dua bagian pipa yang digunakan untuk trakeostomi jangka panjang. Tidak perlu terlalu sering dibersihkan dan penderita dapat merawat sendiri.
5.    Fenestrated Tubes
Trakeostomi ini mempunyai bagian yang terbuka di sebelah posteriornya, sehingga penderita masih tetap merasa bernafas melewati hidungnya. Selain itu, bagian terbuka ini memungkinkan penderita untuk dapat berbicara.

H.   Prosedur Perawatan Trakeostomi
1.    Peralatan
Menurut Roni7iftitah (2010), Alat yang perlu dipersiapkan untuk melakukan trakeostomi adalah :
Kateter penghisap
Sarung  tangan steril
Ukuran kateter yang cocok, steril serta bersih dan terdesinfeksi
Tali pengikat
Kassa steril
Swab
Hidrogen Peroksida
Normal salin
Kanul trakea
Sikat
Mangkuk Steril
Mantel pelindung
Bib trakeostomi
Pelindung mata
Gunting
Perlak dan handuk

2.      Prosedur Perawatan Pasca Trakeostomi
Menurut Ilham (2010), segera setelah trakeostomi dilakukan:
Rontgen dada untuk menilai posisi tube dan melihat timbul atau tidaknya komplikasi
Antibiotik untuk menurunkan risiko timbulnya infeksi
Mengajari pihak keluarga dan penderita sendiri cara merawat pipa trakeostomi
Menurut Roni7iftitah (2010), langkah-langkah tindakan perawatan trakeostomi adalah :
Kaji pernapasan klien, termasuk kebutuhan klien akan pengisapan dan pembersihan trakeostomi
Cuci tangan
Letakkan alat-alat di atas meja
Tinggikan tempat tidur sampai ketinggian yang nyaman untuk bekerja
Bantu klien untuk mengambil posisi semi fowler atau terlentang
Jika diperlukan, hubungkan selang pengisap ke aparatus penghisap. Letakkan ujung selang di tempat yang mudah di jangkau dan hidupkan penghisap
Letakkan handuk melintang di dada klien
Buka set atau peralatan penghisap. Buka juga bungkus alat-alat yang diperlukan untuk pembersihan trakheostomi
1)      Letakkan perlak paling bawah dan atur peralatan penghisap
2)      Atur mangkuk steril kedua dekat. Jangan sentuh bagian dalam mangkuk
3)      Tuangkan 50 ml hidrogen peroksida ke mangkuk kedua. Jangan sampai menetes ke perlak.
4)      Buka sikat steril dan letakkan di sebelah mangkuk yang berisi hidrogen peroksida
5)      Buka ketiga bungkus kasa 10 x 10 cm. pertahankan sterilitas kasa. Tuangkan hidrogen peroksida di atas kasa pertama dan normal salin di kasa kedua. Biarkan kasa ketiga tetap kering.
6)      Buka swab berujung kapas. Tuangkan hidrogen peroksida pada satu paket swab dan normal salin pada paket swab lainnya.
7)      Jika menggunakan kanul dalam sekali pakai, buka bungkusnya sehingga kanul dapat dengan mudah diambil. Pertahankan sterilsasi kanula dalam.
8)      Tetapkan panjang tali pengikat trakheostomi yang diperlukan dengan menggandakan lingkar leher dan menambah 5 cm dan gunting tali pada panjang tersebut.
Lakukan prosedur pengisapan. Pastikan bahwa anda telah menggunakan mantel pelindung dan sarung tangan steril
Lepaskan bib trakheostomi dari keliling pipa trakheostomi dan buang bib tersebut
Lepaskan sarung tangan yang sudah basah dan kenakan sarung tangan steril yang baru. Tangan dominan anda harus tetap steril sepanjang prosedur dilakukan. Bersihkan kanul dalam.
Mangganti kanul dalam sekali pakai (dispossible inner-canula).
1)      Buka dan dengan hati-hati lepaskan kanul dengan menggunakan tangan tak dominan anda.
2)      Lakukan pengiapan dengan teknik steril, jika diperlukan.
3)      Keluarkan kanul dalam baru steril dalam bungkusnya dan siramkan sejumlah normal salin steril pada kanul baru tersebut. Biarkan normal salin menetes dari kanul dalam.
4)      Bantalan kasa pertama di gunakan untuk membersihkan kulit di sektar trakheostomi. Kasa kedua digunakan untuk mengangkat debris yang dilunakkan oleh hidrogen peroksida, dan kasa ketiga digunakan untuk mengeringkan kulit.
5)      Swab digunakan untuk membersihkan sekitar trakheostomi.
6)      Kanul dalam steril harus sudah siap dipasang setelah anda membersihkan kulit.
7)      Tali menahan trakheostomi di tempatnya tanpa menghambat sirkulasi.
Membersihkan jalan udara sehingga pembersihan trakheostomi menjadi lebih efisien. Pengisapan merupakan prosedur steril. Mantel pelindung mencegah kontak dengan cairan tubuh klien.
Kulit harus dibersihkan untuk mencegah kerusakan kulit.
Menurunkan penyebaran mikroorganisme.
1)      Kanul dalam harus dilepaskan dan diganti untuk mengurangi penyebaran mikroorganisme dan untuk meningkatkan pernapasan.
2)      Melepaskan kanul dalam dapat menstimulasi batuk dan klien mungkin membutuhkan pengisapan.
3)      Normal salin yang menetes ke dalam trakheostomi dapat menyebabkan klien batuk.
4)      Dengan hati-hati dan cermat pasang kanul dalam ke dalam bagian luar kanul dan kunci kembali agar tetap berada di tempatnya.
5)      Hubungkan kembali klien dengan sumber oksigen.
Membersihkan kanul dalam tak disposable
1)      Lepaskan kanul dalam menggunakan tangan tak dominan dan letakkan kanul tersebut dalam mangkuk yang berisi hidrogen peroksida.
2)      Bersihkan kanul dalam dengan sikat (tangan dominan anda memegang sikat dan tangan tak dominan anda memegang kanul dalam).
3)      Pegang kanul di atas mangkuk yang berisi hidrogen peroksida dan tuangkan normal salin pada kanul tersebut sampai semua kanul terbilas dengan baik. Biarkan normal salin memetes dari kanul dalam.
4)      Pasang kembali kanul dalam ke dalam kanul luar dan kunci agar tidak berubah letaknya.
5)      Hubungkan kembali ke sumber oksigen.
Gunakan kasa dan swab berujung kapas yang dibasahi dengan hidrogen peroksida untuk membersihkan permukaan luar dari kanul luar dan area kulit sekitarnya.bersihkan juga area kulit tepat di bawah kanul. Lalu bilas menggunakan kasa dan swab yang dibasahi dengan normal salin. Kemudian keringkan dengan menggunakan kasa kering.
Ganti tali pengikat trakheostomi. Biarkan tali yang lama tetap di tempatnya sementara anda memasang tali yang baru. Sisipkan tali yang baru pada salah satu sisi dari faceplate. Lingkarkan kedua ujung bebasnya mengelilingi bagian belakang leher lain ke sisi lainnya dari faceplate. Sisipkan salah satu ujung bebasnya pada salah satu sisi faceplate dan ikat dengan kuat tetapi tidak ketat. Gunting tali yang lama.
Letakkan bib trakheostomi atau balutan bersih mengelilingi kanul luar di bawah tali pengikat faceplate. Periksa untuk memastikan bahwa tali pengikat tidak terlalu ketat tetapi pipa trakheostomi telah dengan aman tertahan di tempatnya.
Mengempiskan dan mengembangkan manset (cuff) pipa trakheostomi.
1)      Pakai sarung tangan steril
2)      Lakukan pengisap jalan udara orofaring klien
Bilas selang penghisap
Cuci tangan

Evaluasi dan dokumentasikan

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar