Jumat, 13 Juli 2012

PEMERIKSAAN FISIK PADA MATA


BAB I
PENDAHULUAN
Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Yang dilakukan mata yang paling sederhana tak lain hanya mengetahui apakah lingkungan sekitarnya adalah terang atau gelap. Mata yang lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan pengertian visual. Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan.  Sebagian besar mata dilapisi oleh jaringan ikat yang protektif dan kuat di sebelah luar, sklera, yang membentuk bagian putih mata. Di anterior (ke arah depan), lapisan luar terdiri atas kornea transparan tempat lewatnya berkas–berkas cahaya ke interior mata. Lapisan tengah dibawah sklera adalah koroid yang sangat berpigmen dan mengandung pembuluh-pembuluh darah untuk memberi makan retina. Lapisan paling dalam dibawah koroid adalah retina, yang terdiri atas lapisan yang sangat berpigmen di sebelah luar dan sebuah lapisan syaraf di dalam. Retina mengandung sel batang dan sel kerucut, fotoreseptor yang mengubah energi cahaya menjadi impuls syaraf. Struktur mata manusia berfungsi utama untuk memfokuskan cahaya ke retina. Semua komponen–komponen yang dilewati cahaya sebelum sampai ke retina mayoritas berwarna gelap untuk meminimalisir pembentukan bayangan gelap dari cahaya. Kornea dan lensa berguna untuk mengumpulkan cahaya yang akan difokuskan ke retina, cahaya ini akan menyebabkan perubahan kimiawi pada sel fotosensitif di retina. Hal ini akan merangsang impuls–impuls syaraf ini dan menjalarkannya ke otak.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1  ANATOMI MATA
http://3.bp.blogspot.com/-CgEgLNhSoBQ/TsTu0KQw7NI/AAAAAAAAC0k/vDyRSPyAFqo/s320/maaa.jpg

Bola mata berdiameter ±2,5 cm dimana 5/6 bagiannya terbenam dalam rongga mata, dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak pada bagian luar. Gambar 2.1 menunjukan bagian-bagian yang termasuk ke dalam bola mata, bagian-bagian tersebut memiliki fungsi berbeda, secara rinci diuraikan sebagai berikut :
1.      Sklera : Melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi tempat melekatnya bola mata
2.      Otot-otot : Otot-otot yang melekat pada mata :
a.       muskulus rektus superior : menggerakan mata ke atas
b.      muskulus rektus inferior : mengerakan mata ke bawah
3.      Kornea : memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksikan cahaya
4.      Badan Siliaris : Menyokong lensa dan mengandung otot yang memungkinkan lensa untuk beroakomodasi, kemudian berfungsijuga untuk mengsekreskan aqueus humor
5.      Iris : Mengendalikan cahaya yang masuk ke mata melalui pupil, mengandung pigmen.
6.      Lensa : Memfokuskan pandangan dengan mengubah bentuk lensa
7.      Bintik kuning (Fovea) : Bagian retina yang mengandung sel kerucut
8.      Bintik buta : Daerah syaraf optic meninggalkan bagian dalam bola mata
9.      Vitreous humor : Menyokong lensa dan menjaga bentuk bola mata
10.  Aquous humor : Menjaga bentuk kantong bola mata
Bola mata dibagi menjadi 3 lapisan, dari luar ke dalam yaitu tunica fibrosa, tunica vasculosa, dan tunica nervosa.


1.      Tunica Vibrosa
Tunica vibrosa terdiri dari sklera, sklera merupakan lapisan luar yang sangat kuat. Sklera berwarna putih putih, kecuali di depan. Pada lapisan ini terdapat kornea, yaitu lapisan yang berwarna bening dan berfungsi untuk menerima cahaya masuk kemudian memfokuskannya. Untuk melindungi kornea ini, maka disekresikan air mata sehingga keadaannya selalu basah dan dapat membersihkan dari debu. Pada batas cornea dan sclera terdapat canalis schlemm yaitu suatu sinus venosus yang menyerap kembali cairan aquaus humor bola mata.

2.      Tunica Vasculosa
Tunica vasculosa merupakan bagian tengah bola mata, urutan dari depan ke belakang terdiri dari iris, corpus ciliaris dan koroid. Koroid merupakan lapisan tengah yang kaya akan pembuluh darah, lapisan ini juga kaya akan pigmen warna. Daerah ini disebut Iris. Coba Anda perhatikan mata orang Indonesia dengan orang-orang dari Negara barat! Apakah perbedaannya? Tentunya pada warna. Orang Indonesia biasanya bermata hitam atau coklat, adapun orang barat biasanya berwarna biru atau hijau. Nah, di bagian irislah terdapatnya perbedaan ini karena di tempat ini memiliki pigmen warna.

Bagian depan dari lapisan iris ini disebut Pupil yang terletak di belakang kornea tengah. Pengaruh kerja ototnya yaitu melebar dan menyempitnya bagian ini. Coba Anda masuk ke dalam suatu kamar yang gelap gulita, maka Anda akan berusaha melihat dengan melebarkan mata agar cahaya yang masuk cukup. Pada kondisi ini disebut dengan dilatasi, demikian sebaliknya jika Anda berada pada ruangan yang terlalu terang maka Anda akan berusaha untuk menyempitkan mata karena silau untuk mengurangi cahaya yang masuk yang disebut dengan konstriksi. Pada sebuah kamera, pupil ini diibaratkan seperti diafragma yang dapat mengatur jumlah cahaya yang masuk.

Di sebelah dalam pupil terdapat lensa yang berbentuk cakram otot yang disebut Musculus Siliaris. Otot ini sangat kuat dalam mendukung fungsi lensa mata, yang selalu bekerja untuk memfokuskan penglihatan. Seseorang yang melihat benda dengan jarak yang jauh tidak mengakibatkan otot lensa mata bekerja, tetapi apabila seseorang melihat benda dengan jarak yang dekat maka akan memaksa otot lensa bekerja lebih berat karena otot lensa harus menegang untuk membuat lensa mata lebih tebal sehingga dapat memfokuskan penglihatan pada benda-benda tersebut

Pada bagian depan dan belakang lensa ini terdapat rongga yang berisi caira bening yang masing-masing disebut Aqueous Humor dan Vitreous Humor. Adanya cairan ini dapat memperkokoh kedudukan bola mata

3.      Tunica Nervosa
Tunica nervosa (retina) merupakan reseptor pada mata yang terletak pada bagian belakang koroid. Bagian ini merupakan bagian terdalam dari mata. Lapisan ini lunak, namun tipis, hampir menyerupai lapisan pada kulit bawang. Retina tersusun dari sekitar 103 juta sel-sel yang berfungsi untuk menerima cahaya. Di antara sel-sel tersebut sekitar 100 juta sel merupakan sel-sel batang yang berbentuk seperti tongkat pendek dan 3 juta lainnya adalah sel konus (kerucut). Sel-sel ini berfungsi untuk penglihatan hitam dan putih, dan sangat peka pada sedikit cahaya.
1.      SEL BATANG tidak dapat membedakan warna, tetapi lebih sensitif terhadap cahaya sehingga sel ini lebih berfungsi pada saat melihat ditempat gelap. Sel batang ini mengandung suatu pigmen yang fotosensitif disebut rhodopsin. Cahaya lemah seperti cahaya bulan pun dapat mengenai rhodopsin. Sehingga sel batang ini diperlukan untuk penglihatan pada cahaya remang-remang.
2.      SEL KERUCUT atau cone cell mengandung jenis pigmen yang berbeda, yaitu iodopsin yang terdiri dari retinen. Terdapat 3 jenis iodopsin yang masing-masing sensitif terhadap cahaya merah, hijau dan biru. Masing-masing disebut iodopsin merah, hijau dan biru. Segala warna yang ada di dunia ini dapat dibentuk dengan mencamputkan ketiga warna tersebut. Sel kerucut diperlukan untuk penglihatan ketika cahaya terang.
Signal listrik dari sel batang dan sel kerucut ini akan di teruskan melalui sinap ke neuron bipolar, kemudian ke neuron ganglion yang akan membentuk satu bundel syaraf yaitu syaraf otak ke II yang menembus coroid dan sclera menuju otak. Bagian yang menembus ini disebut dengan discus opticus, dimana discus opticus ini tidak mengandung sel batang dan sel kerucut, maka cahaya yang jatuh ke discus opticus tidak akan terlihat apa-apa sehingga disebut dengan bintik buta.

2.2  FISIOLOGI MATA
Mata, organ yang mengandung reseptor penglihatan, menyediakan visi, dengan bantuan dari organ aksesori. Organ aksesori ini mengandung kelopak mata dan apparus lakrimal, yang mana melindungi mata dan seperangkat otot ekstrinsik yang mana menggerakkan mata.
Lapisan pelindung luar bola mata yaitu sklera, dimodifikasi di bagian anterior untuk membentuk kornea yang tembus pandang, dan akan dilalui berkas sinar yang akan masuk ke mata. Di bagian dalam sklera terdapat koroid, lapisan yang mengandung banyak pembuluh darah yang memberi makan struktur-struktur dalam bola mata.

Kornea adalah transparan, berbentuk kubah jendela yang menutupi bagian depan dari mata. Itu sangat kuat membelokkan permukaan, menyediakan 2/3 kekuatan focus mata. Seperti kristal pada arloji yang memberikan kita jendela yang jelas untuk melihat. Karena tidak ada aliran darah dalam kornea, itu jelas normal dan mempunyai permukaan yang berkilau. Kornea sangat sensitif – terdapat banyak ujung saraf dalam kornea dibandingkan dimanapun selain di badan. Kornea orang dewasa tebalnya hanya ½ millimeter dan terdiri atas lima lapisan : epithelium, selaput bowman, stroma, selaput descement dan endothelium.

Epithelium adalah lapisan sel yang melindungi permukaan kornea. Hanya sekitar 5-6 lapisan sel tebal dan terjadi regenerasi dengan cepat ketika kornea mengalami cedera. Selaput bowman berada dibawah epithelium karena lapisan ini sangat liat dan susah untuk melakukan penetrasi, selaput bowman melindungi kornea dari cedera. Stroma merupakan lapisan paling tebal dan berada dibawah selaput bowman. Terdiri dari sedikit serat kolagen yang mengalir paralel satu sama lain. Bentuk khusus ini dari serat kolagen memberikan kornea kejelasan. Selaput descement berada diantara stroma dan endothelium hanya berada dibawah descement dan hanya satu lapisan sel yang tebal. Lapisan ini memompa air dari kornea dan menjaganya tetap bersih. Jika terjadi kerusakan atau penyakit, sel ini tidak akan melakukan regenerasi.

Lensa kristalina adalah suatu struktur tembus pandang yang difiksasi ligamentum sirkular lensa (zonula zinii). Zonula melekat dibagian anterior koroid yang menebal yang disebut korpus siliaris. Korpus siliaris mengandung serat-serat otot melingkar dan longitudinal yang melekat dekat dengan batas korneosklera. Di depan lensa terdapat iris yang berpigmen dan tidak tembus pandang, yaitu bagian mata yang berwarna. Iris mengandung serat-serat otot sirkular yang menciutkan dan serat-serat radial yang melebarkan pupil. Perubahan garis tengah pupil dapat mengakibatkan perubahan sampai lima kali lipat dari jumlah cahaya yang mencapai retina. Ruang antara lensa dan retina sebagian besar terisi oleh zat gelatinosa jernih yang disebut korpus vitreous. Aqueous humor, suatu cairan jernih yang memberi makan kornea dan lensa, dihasilkan dikorpus siliaris melalui proses difusi dan transport aktif dari plasma. Cairan ini mengalir melalui pupil untuk mengisi kamera okuli anterior (ruang anterior mata). Dalam keadaan normal, cairan ini diserap kembali melalui jaringan trabekula masuk ke dalam kanalis Schlemm, suatu saluran antara iris dan kornea.

Lapangan penglihatan, ketika kedua mata menatap sebuah objek, gambar difokuskan bersersesuaian dengan bagian tiap retina. Lapangan kiri penglihatan , di sini adalah biru, difokuskan pada sebelah kanan tiap retina; tetapi pesan yang berupa gambar difokuskan pada bagian yang berbeda dari tiap retina relatif ke hidung. Lapangan penglihatan sebelah kiri difokuskan pada retina kiri pada sisi yang paling dekat dengan hidung – bagian nasal, tetapi difokuskan pada retina kanan pada sisi terjauh dari hidung – bagian temporal.

Mengagabungkan “lapangan penglihatan” kedalam penuh dengan arti yang melibatkan proses pindah silang pada optik chiasma.. serabut optik dari bagian nasal dari pindah silang tiap retina dan mengikuti serabut dari bagian tiap retina pada sisi berlawanan. Gabungan serabut dari bidang optik. Begitu bidang optik kiri mengandung impuls gambar dari lapangan penglihatan kanan dan bidang optik kanan mengandung ini dari lapangan penglihatan. Sinaps pada kiri/kanan thalamus, serabut dilanjutkan sebagai radiasi optik ke akhir dari korteks kanan dan kiri lobus occipitalis. Lokasi luka pada bagian penglihatan menentukan hasil cacat penglihatan. Sebagai contoh, destruksi saraf penglihatan menghasilkan kebutaan pada kedua mata. Kehilangan seluruh radiasi optik kanan, contohnya bisa terjadi pada stroke, penglihatan terhalang dari lapangan penglihatan kiri dan vice versa.

Pergerakan mata, enam otot berdempet ke sklera mengendalikan pergerakan mata dalam orbit. Enam otot ini diatur oleh saraf kranial III (okulomotor), IV (trochlear) dan VI (abducens).


Otot
Menghasilkan gerakan
Saraf cranial
1. Rektus superior
2. Rektus inferior
3. Rektus medialis
4. Rektus lateralis
5. Oblique superior
6. Oblique inferior
Ke atas
Ke bawah
Ke dalam arah hidung
Jauh dari hidung
Ke bawah dan masuk
Ke atas dan keluar
Okulomotor (III)
Okulomotor (III)
Okulomotor (III)
Abducens (VI)
Trochlear (IV)
Okulomotor (III)
Gangguan pergerakan mata dapat mnyebabkan gambar gagal difokuskan pada bagian bersesuaian dari retina, ini menghasilkan penglihatan ganda (diplopia). Atau sama dalam kasus paralysis satu mata tidak dapat menetapkan semua object, dihasilkan dalam monocular, dari pada binocular, penglihatan.

Ketika cahaya bersinar pada satu mata, kedua pupil berkontriksi , konstriksi ini adalah refleks cahaya pupil. optik atau saraf kranial II terdiri dari 80% visual dan serabut pupil afferent. Cahaya impuls ke dalam mata menyebabkan retina menyebarkan impuls ke saraf optik, bidang optik, otak tengah, dan korteks visual dari lobus occipitalis. Ini adalah otot afferent dari refleks cahaya. Di otak tengah, serabut pupil menyebarkan dan disebarkan dengan serabut silang ke depan nucleus Edinger –whestpaldari okulomotor, atau saraf kranial III. Beberapa serabut tinggal pada sisi yang sama. Saraf kranial ketiga adalah otot efferent, yang mana berangkat melalui badan ciliary ke otot sphincts dari iris yang menyebabkannya berkontraksi. Efek langsungnya adalah konstriksi dari pupil mata bagian atas yang mana cahaya bersinar. Refleks dekat terjadi ketika pelaku melihat jarak dekat. Ada tiga bagian dari refleks dekat yakni akomodasi, menyebarkan, dan konstriksi pupil. akomodasi didefenisikan sebagai fokus dekat dari mata yang mana diakibatkan oleh peningkatan kekuatan lensa oleh kontraksi dari otot ciliary, di inerfasi oleh saraf kranial III.

Reseptor, setiap sel batang dan kerucut dibagi menjadi segmen luar, segmen dalam yang mengandung inti-inti reseptor dan daerah sinaps. Segmen luar adalah modifikasi silia dan merupakan tumpukan teratur sakulus atau lempeng dari membrane. Sakulus dan membrane ini mengandung senyawa-senyawa peka cahaya yang bereaksi terhadap cahaya dan mampu membangkitkan potensial aksi di jaras penglihatan . segmen luar sel batang selalu diperbaharui oleh pembentukan lempeng-lempeng baru ditepbagian dalam segmen dsan proses fagositosis lempeng tua serta dari ujung luar oleh sel-sel eptel berpigmen.

Fotoreseptor terdiri atas dua jenis sel, yaitu koni (kerucut) dan basillli (batang). Sel basilli yang lebih banyak, berfungsi untuk melihat dalam cahaya remang-remang, tidak untuk melihat warna. Koni berfungsi untuk melihat cahaya terang dan warna. Lateral terhadap bintik buta terdapat daerah lonjong disebut macula lutea, demgam cekungan kecil dipusatnya yang disebut fovea sentralis. Fovea sentralis hanya mengandung koni; macula mengandung kebanyakan koni, yang makin berkurang kea rah perifer. Retina perifer hanya mengandung basilli. Agar melihat jelas, berkas cahaya harus jatuh tepat pada fovea sentralis, yang besarnya hanya seujubg jarum pentul.

Semua bangunan transparan yang harus dilalui berkas cahaya untuk mencapai retina disebut media refraksi, yaitu kornea, lensa dan korpus vitreous. Mata normal akan membiaskan cahaya yang memasuki mata sedemikian rupa sehingga bayangannya tepat jatuh tepat di retina, di fovea sentralis.

Mekanisme pembentukan bayangan. Mata mengubah energi dalam spekturm yang dapat dilihat menjadi potensial aksi di nervus optikus. Panjang gelombang cahaya yang dapat dilihat berkisar dari 397 nm sampai 723 nm. Bayangan benda di sekitar difokuskan di retina. Berkas cahaya yang mencapai retina akan mencetuskan potensial didalam sel kerucut dan batang. Impuls yang timbul di retina dihantarkan ke korteks serebrum, untuk dapat menimbulkan kesan penglihatan.

Daya akomodasi , biula m. siliaris dalam keadaan istirahat, berkas sinar paralel yang jatuh dimata yang optiknya normal (emetropia) akan difokuskan ke retina. Selama relaksasi ini dipertahankan, maka berkas sinar dari benda yang kurang dari 6 m akan difokuskan di belakang retina dan akibatnya benda tersebut akan nampak kabur. proses meningkatnya kelengkungan lensa disebut akomodasi. Pada keadaan istirahat, ketegangan lensa dipertahankan oleh tarikan ligamentum lensa. Karena bahan lensa mudah dibentuk dan kelenturan kapsul lensa cukup tinggi, lensa dapat ditarik menjadi gepeng. Bila pandangan diarahkan ke benda yang dekat, otot siliaris akan berkontraksi. Hal ini mengurangi jarak antara tepi-tepi korpus siliaris dan melemaskan ligamentum lensa, sehingga lensa membentuk mengerut membentuk benda yang lebih cembung. Pada orang berusia muda bentuk ini dapat meningkatkan daya bias mata hingga 12 dioptri.

Selain akomodasi, terjadi konvergensi sumbu penglihatan dan konstriksi pupil bila seseorang melihat benda yang dekat. Respon 3 bagian ini : akomodasi, konvergensi, sumbu penglihatan, dan kontriksi pupil disebut respon melihat dekat.
Gangguan umum pada mekanisme pembentukan bayangan, pada beberapa orang, bola mata berukuran lebih pendek daripada normal dan sinar yang sejajar difokuskan dibelakang retina. Kelainan ini disebut hiperopia atau penglihatan jauh. Akomodasi yang terus menerus, bahkan sewaktu melihat benda jauh dapat sedikit mengkompensasi kelainan, tetapi kerja otot yang terus menerus akan melelahkan dan dapat menimbulkan nyeri kepala dan penglihatan kabur. Konvergensi sumbu penglihatan yang terus menerus yang disertai akomodasi akhirnya dapat menimbulkan juling (strabismus), kelainan ini dapat diperbaiki dengan menggunakan kacamata dengan lensa konveks, yang membantu daya bias mata dalam memperpendek jarak fokus.

Pada miopia (penglihatan dekat), garis tengah antero posterior bola mata terlalu panjang. Miopia bersifat genetik. Pada orang berusia muda aktivitas pekerjaan yang berkaitan dengan benda-benda dekat, misalnya belajar dapat mempercepat timbulnya miopia. Kelainan ini dapat diatasi dengan kacamata lensa bikonkaf, yang membuat berkas cahaya sejajar sedikit berdivergensi sebelum masuk ke mata. Astigmatisme adalah keadaan yang sering dijumpai dengan kelengkungan kornea tidak merata. Bila kelengkungan disatu meridian berbeda dengan kelengkungan dimeridian lain, berkas cahaya di meridian tersebut akan dibiaskan ke fokus yang berbeda.yang kurang dari 6 meter akan difokuskan di belakang retina dan akibatnya benda tersebut tampak kabur.


2.3  KELAINAN PENGLIHATAN
Mata seperti organ tubuh yang lain juga dapat mengalami kelainan. Beberapa kelainan dan gangguan kesehatan pada mata adalah sebagai berikut.
1.      Faktor Keturunan
Kelainan ini terjadi pada sel-sel retina yang dikenal dengan buta warna, Pada kelainan ini penderita tidak dapat membedakan warna-warni benda. Warna dibedakan berdasarkan intensitas penguraian terhadap masing-masing iodopsin. Orang yang buta warna tidak memiliki satu atau lebih pigmen iodopsin. Contoh : pada penderita buta warna merah tidak memiliki iodopsin merah, penderita hanya dapat melihat warna hijau dan biru atau campurannya.

Buta warna didefinisikan sebagai kelainan atau gangguan dalam melihat warna. Paling sering ditemui adalah gangguan melihat warna merah-hijau. Gangguan warna biru-kuning lebih jarang. Sedangkan buta warna total, yaitu tidak dapat melihat warna sama sekali, lebih jarang lagi. Buta warna disebabkan oleh dua hal, yaitu karena turunan dan karena dapatan (acquired). Buta warna turunan terjadi akibat kurang atau tidak adanya sel konus. Fungsi sel ini adalah 'menangkap" warna. Ada tiga jenis sel konus, yaitu yang sensitif terhadap warna merah, hijau, dan biru. Warna yang kita lihat merupakan perbaduan dari ketiganya.

Jika hanya satu atau dua jenis sel konus yang jumlahnya kurang atau tidak ada, disebut buta warna sebagian atau parsial. Artinya, penderita masih mampu melihat warna tertentu. Sedangkan jika ketiganya tidak ada atau tidak berfungsi sama sekali, maka penderita akan melihat dunia ini hitam, putih, dan abu-abu. Jenis yang terakhir ini dinamakan buta warna total.

2.  Kelainan pada Akomodasi Lensa Mata
1.      Astigmat
Astigmat adalah suatu keadaan mata yang mengalami pandangan kabur. Ini disebabkan karena rusaknya kornea mata. Untuk mengatasinya seseorang harus menggunakan kacamata silindris.
http://3.bp.blogspot.com/-ZBfC43e9LYM/TsTvx33AcmI/AAAAAAAAC0s/btItItfMxEs/s320/clip_image009.jpg

2.      Miopi (rabun jauh)
Kelainan ini disebabkan karena daya akomodasi yang lemah, sehingga bayangan benda tidak tepat pada bintik kuning melainkan di depan bintik kuning. Gejala kelainan ini yaitu hanya dapat melihat dalam jarak lebih dekat dari normal, sekitar kurang dari 30 cm, Untuk mengatasinya penderita harus menggunakan kacamata lensa negative.
http://4.bp.blogspot.com/-W0BEc9oHIzA/TsTwFtMtn3I/AAAAAAAAC00/_pxHVzh0P1U/s320/miopi.jpg

3.      Hipermetropi (rabun dekat)
Gejala penyakit hipermetropi adalah seseorang hanya dapat melihat dengan jarak yang jauh sekitar lebih jauh dari 30 cm. Untuk mengatasinya penderita harus menggunakan kacamata lensa positif.
http://4.bp.blogspot.com/-gejRZj1jy3k/TsTwdxtxOEI/AAAAAAAAC08/cxf96OkwYFg/s320/hipermetropi.jpg


4.      Presbiopi
Kelainan presbiop sering diderita oleh orang tua, disebabkan karena daya akomodasi berubah-ubah akibat titik proksimum dan remotum penglihatan berubah-ubah. Untuk mengatasinya penderita harus menggunakan kacamata berlensa rangkap yaitu positif dan negatif.
http://4.bp.blogspot.com/-OrFKlXWlS3s/TsTwqxq0qXI/AAAAAAAAC1E/vvIGgBMpMuk/s320/presbiopi3.jpg

3. Penyakit pada Mata
Penyakit yang terjadi pada mata antara lain seperti berikut.
1.      Katarak
Katarak merupakan keadaan pengeruhan pada lensa mata. Sebab- sebabnya adalah diabetes melitus, sinar X, obat-obat kortison dalam waktu lama. Penyakit ini dapat disembuhkan melalui operasi, dengan menanam lensa buatan di dalam bola mata.
http://2.bp.blogspot.com/-a77PEE4U18o/TsTxA32vEFI/AAAAAAAAC1M/hUHRyscnTYU/s320/katarak2.jpg

2.      Trakhoma
Trakhoma merupakan penyakit yang disebabkan terjadinya peradangan konjungktiva, yang diakibatkan karena infeksi virus. Apabila dibiarkan penyakit ini dapat menimbulkan kebutaan.
http://4.bp.blogspot.com/-Q7bCy-1Zr5I/TsTxakmL5ZI/AAAAAAAAC1U/Tm4jFb9OD4k/s320/pt-is-young-child-from-africa.gif.jpg

3.      Juling
Juling adalah gagalnya kedua mata bersama-sama mengarahkan pandangannya pada suatu titik atau benda akibat tidak seimbangnya kekuatan otot penggerak mata

4.      Pterigium
Pterigium adalah pertumbuhan jaringan yang berbentuk segitiga yang mengarah/ masuk ke dalam kornea

5.      Parut kornea
Parut kornea adalah parut pada kornea yang berwarna putih yang terbentuk karena infeksi, trauma dan kekurangan vit.A.


2.4  PEMERIKSAAN FISIK PADA MATA
1.      ANAMNESA
Perlu dilakukan pernyataan pada pasien yang meliputi :
1.      Keluhan Utama
2.      Riwayat penyakit sekarang
3.      Riwayat penyakit dahulu yang berhubungnan dengan penyakit sekarang
4.      Riwayat pemakaian obat2an
5.      Riwayat penyakit keluarga

Secara garis besar keluhan mata terbagi menjadi 3 kategori, yaitu :
1)      Kelainan penglihatan
a.       Penurunan tajam penglihatan
b.      Aberasi penglihatan
§  bayangan hallo, pada glukoma gjl prodromal
§  kilatan cahaya, gangguan badan kaca dan glukoma
§  flater
§  Diplopia = double, (gangguan otot gerak mata atau perbedaan refraksi kedua mata yang terlalu besar), baik monokuler atau binokuler
2)      Kelainan penampilan mata
Mata merah, perubahan lokal dari mata seperti ptosis, bola mata menonjol, pertumbuhan tidak normal.
3)      Kelaianan sensasi mata (nyeri, gatal, panas, berair, mengganjal)
§  Sakit
§  Mata lelah
§  Iritasi mata

2.      MENGINSPEKSI MATA
Setelah melakukan uji penglihatan, lakukan teknik pengkajian berikut. Inspeksi kelopak mata, bulu mata, bola mata, dan apartus lakrimal. Inspeksi juga konjungitva, sklera, kornea, ruang anterior, iris dan pupil. Gunakan oftalmoskop untuk mengkaji humor vitreous dan retina.
Inspeksi kelopak mata, bulu mata, dan apartus lakrimal
·         Kelopak mata harus konsisten dengan corak klien, dengan tanpa oedema atau lesi. Lipatan palpebra harus simetris dengan tidak ada kelambatan kelopak
·         Bulu mata harus terdistribusi rata di sepanjang kelopak
·         Bola mata harus cerah dan jernih
·         Apartus lakrimal harus tidak mengalami inflamasi, pembengkakan atau air mata yang berlebihan
Inspeksi konjungitva
·         Periksa konjungtiva palpebra hanya jika anda mencurigai adanya benda asing atau jika klien mengeluh nyeri kelopak mata. Untuk memeriksa bagian dari konjungtiva ini, minta klien untuk melihat ke bawah sementara anda menarik dengan perlahan bulu mata tengah ke depan dan ke atas dengan ibu jari dan jari telunjuk anda.
·         Sambil memegang bulu mata, tekan tepi tarsal dengan lidi kapas untuk membalikkan kelopak mata keluar. Teknik ini membutuhkan keterampilan untuk mencegah klien merasa tidak nyaman. Tahan bulu mata ke arah alis dan periksa konjungtiva, yang seharusnya berwarna merah muda dan bebas dari pembengkakan.
·         Untuk mengembalikan kelopak mata ke posisi normalnya, lepaskan bulu mata dan minta klien untuk melihat ke atas. Jika hal ini tidak membalikan kelopak mata, pegang bulu mata dan tarik dengan perlhan ke arah depan.
·         Untuk menginspeksi konjungtiva bulbar, buka kelopak mata dengan perlahang dengan ibu jari atau jari telunjuk anda. Minta klien untuk melihat ke atas, ke bawah, ke kiri, dan ke kanan, sementara anda memeriksa keseluruhan kelopak mata bagian bawah.
Inspeksi kornea, ruang anterior, dan iris
·         Untuk menginspeksi kornea dan ruang anterior, arahkan cahaya senter ke dalam mata klien dari beberapa sudut sisi. Normalnya, kornea dan ruang anterior bersih dan transparan. Hitung kedalaman ruang anterior dari samping dengan menggambarkan jarak antara kornea dengan iris. Iris harus teriluminasi dengan cahay dari samping. Permukaan kornea normalnya tampak bercahaya dan terang tanpa adanya jaringan parut atau ketidakteraturan. Pada klien lansia, arkus senilis (cincin abu-abu putih di sekeliling tepi kornea) merupakan hal yang normal.
·         Uji sensitivitas korneal, yang menunjukkan keutuhan fungsi saraf kranial V (saraf trigemeinus) dengan sedikit mengusapkan kapas di permukaan kornea. Kelopak di kedua mata harus menutup ketika anda menyentuh kornea. Gunakan kapas yang berbeda untuk setiap mata untuk menghindari kontaminasi silang.
·         Inspeksi bentuk iris, yang harus tampak datar jika dipandang dari samping, dan juga warnanya.
Inspeksi pupil
·         Periksa kesamaan ukuran, bentuk, reaksi terhadap cahaya, dan akomodasi pada pupil masing-masing mata. Untuk menguji reaksi pupil terhadap cahay, gelapkan ruangan dan dengan klien menatap lurus ke arah titik yang sudah ditentukan, sorotkan senter dari samping mata kiri ke tengah pupilnya. Kedua pupil harus berespons; pupil yang menerima cahaya langsung berkonstriksi secara langsung, sementara pupil yang lain berkonstriksi secara bersamaan dan secara penuh.
·         Sekarang uji pupil mata kanan. Pupil harus bereaksi segera, seimbang, dan cepat (dalam 1 sampai 2 detik). Jika hasilnya tidak meyakinkan, tunggu 15 sampai 30 detik dan coba lagi. Pupil harus bundar dan sama sebelum dan sesudah kelihatan cahaya.
·         Untuk menguji akomodasi, minta klien menatap objek di seberang ruangan. Normalnya pupil akan dilatasi. Kemudian minta klien untuk menatap jari telunjuk anda atau pada pensil yang berjarak 60 cm. Pupil harus berkonstriksi dan mengumpul seimbang pada objek. Ingat bahwa pada klien lansia, akomodasi dapat berkurang.

3.      MEMPALPASI MATA
·         Palpasi dengan perlahan adanya pembengkakan dan nyeri tekan pada kelopak mata. Kemudian, palpasi bola mata dengan menempatkan kedua ujung jari telunjuk di kelopak mata di atas sklera sementara klien melihat ke bawah. Bola mata harus teras sama keras.
·         Kemudian, palpasi kantong lakrinal dengan menekankan jari telunjuk pada lingkar orbital bawah pada sisi yang paling dekat dengan hidung klien. Sambil menekan, observasi adanya regurgitasi abnormal materi purulen atau air mata yang berlebihan pada punctum, yang dapat mengindikasikan adanya sumbatan dalam duktus nasolakrimal.

4.      PEMERIKSAAN TAJAM PENGLIHATAN ( VISUS )
http://1.bp.blogspot.com/-v8OSjFz1748/TsTx2XGLFdI/AAAAAAAAC1c/6In-3k5e_uc/s320/snellen.png

Gb. 2 alat pengukuran visus

Pemeriksaan tajam penglihatan :
·         Lakukan uji penglihatan dalam ruangan yang cukup tenang, tetapi anda dapat mengendalikan jumlah cahaya.
·         Gantungkan kartu Snellen atau kartu E yang sejajar mata responden dengan jarak 6 meter
·         Pemeriksaan dimulai dengan mata kanan
·         Mata kiri responden ditutup dengan penutup mata atau telapak tangan tanpa menekan bolamata
·         Responden disarankan membaca huruf dari kiri ke kanan setiap baris kartu Snellen atau memperagakan posisi huruf E pada kartu E  dimulai baris teratas atau huruf yang paling besar sampai huruf terkecil (baris yang tertera angka 20/20) 
·         Penglihatan normal bila responden dapat membaca sampai huruf terkecil 20/20 (tulis 020/020)
·         Bila dalam baris tersebut responden dapat membaca atau memperagakan posisi huruf E KURANG dari setengah baris maka yang dicatat ialah baris yang tertera angka di atasnya.
·         Bila dalam baris tersebut responden dapat membaca atau memperagakan posisi huruf E LEBIH dari setengah baris maka yang dicatat ialah baris yang tertera angka tersebut.
Pemeriksaan uji penglihatan dengan HITUNG JARI :
·         Bila responden belum dapat melihat huruf teratas atau terbesar dari kartu   Snellen atau kartu E maka mulai HITUNG JARI pada jarak 3 meter (tulis 03/060).
·         Hitung jari 3 meter belum bisa terlihat maka maju 2 meter (tulis 02/060), bila belum terlihat maju 1 meter (tulis 01/060). Bila belum juga terlihat maka lakukan GOYANGAN TANGAN pada jarak 1 meter (tulis 01/300)
·         Goyangan tangan belum terlihat maka senter mata responden dan tanyakan apakah responden dapat melihat SINAR SENTER (jika ya tulis 01/888)
·         Bila tidak dapat melihat sinar senter disebut BUTA TOTAL (tulis 00/000)

Selanjutnya, uji fungsi visual, termasuk ketajaman penglihatan jarak dekat dan jarak jauh, persepsi warna dan penglihatan perifer.
1.      Uji penglihatan jarak jauh
Untuk menguji penglihatan jarak jauh pada klien yang dapat membaca bahasa inggris, gunakan grafik alfabet Snellen yang berisi berbagai ukuran huruf. Untuk klien yang buta huruf atau tidak dapat berbicara bahasa inggris, gunakan grafik Snellen E, yang menunjukkan huruf-huruf dalam berbagai ukuran dan posisi. Klien menunjukkan posisi huruf E dengan menirukan posisi tersebut dengan jari tangannya.
·         Uji setiap mata secara terpisah dengan terlebih dahulu menutup satu mata dan kemudian mata yang lain dengan kartu buram berukuran 3 x 5 atau penutup mata. Setelah itu, uji penglihatan binokular klien dengan meminta klien membaca gambar dengan kedua mata terbuka. Klien yang normalnya memakai lensa korektif untuk penglihatan jarak jauh harus memakainya untuk uji tersebut.
·         Mulai dengan baris yang bertanda 20/20. Jika klien salah membaca lebih dari dua huruf, pindahlah ke baris berikutnya 20/25. Lanjutkan sampai klien dapat membaca baris tersebut dengan benar dengan kesalahan yang tidak lebih dari dua. Baris tersebut menunjukkan ketajaman penglihatan jarak jauh klien.

2.      Uji penglihatan jarak dekat
Uji penglihatan jarak dekat klien dengan memegang grafik Snellen atau kartu dengan kertas koran berukuran 30,5 sampai 35,5 cm di depan mata klien, klien yang normalnya memakai kacamata baca harus memakainya untuk uji ini. Seperti pada penglihatan jarak jauh, uji setiap mata secara terpisah dan kemudian bersamaan.

3.      Uji persepsi warna
Minta klien untuk mengidentifikasi pola bulatan-bulatan warna pada plat berwarna. Klien yang tidak dapat membedakan warna tidak akan mendapatkan polanya.

4.      Uji fungsi otot ekstraokuler
Untuk mengkaji fungsi otot ekstraokuler klien, perawat harus melakukan tiga tes : enam posisi kardinal tes penglihatan, tes terbuka-tertutup, dan tes refleks cahaya korneal.
A.    Enam posisi kardinal tes penglihatan
·         Duduk langsung di depan klien, dan pegang objek silindris, seperti pensil, tepat di depan hidung klien, dan menjauh sekitar 46 cm dari hidung klien.
·         Minta klien untuk memperhatikan objek tersebut pada saat dan menggerakkannya searah jarum jam melewati enam posisi kardinal-medal superior, lateral superior, lateral, lateral inferior, dan medial-kembalikan objek ke titik tengah setelah setiap gerakan.
·         Melalui tes ini, mata klien akan tetap paralel pada saat bergerak. Perhatikan adanya temuan abnormal, seperti nistagmus, atau deviasi salah satu mata yang menjauh dari objek.

B.     Tes tertutup-terbuka
·         Minta klien menatap suatu objek pada dinding yang jauh yang berhadapan. Tutupi mata kiri klien dengan kartu buram dan observasi mata kanan yang tidak ditutp akan adanya gerakan atau berputar-putar.
·         Kemudian, lepas kertas dari mata kiri. Mata harus tetap diam dan berfokus pada objek, tanpa bergerak atau berputar-putar. Ulangi proses tersebut dengan mata kanan.

C.     Tes refleks cahaya korneal
·         Minta klien untuk melihat lurus ke depan sementara anda mengarahkan sinar senter ke batang hidung klien dari jarak 30,5 sampai 38 cm. Periksa untuk memastikan apakah kornea memantulkan cahaya di tempat yang tepat sama di kedua mata. Refleks yang tidak simetris menunjukkan ketidakseimbangan otot yang menyebabkan mata menyimpang dari titik yang benar.

5.      Uji penglihatan perifer
·         Duduk berhadapan dengan klien, dengan jarak 60 cm, dengan mata anda sejajar dengan mata klien. Minta klien menatap lurus ke depan.
·         Tutupi satu mata anda dengan kertas buram atau tangan anda dan minta kien untuk menutup matanya yang tepat bersebrangan dengan mata anda yang ditutup
·         Kemudian, ambil sebuah objek, misalnya pensil dari bidang superior perifer ke arah lapang pandang tengah. Objek tersebut harus berada pada jarak yang sama di antara anda dan klien
·         Minta klien untuk mengatakan pada anda saat objek tersebut terlihat. Jika penglihatan perifer anda utuh, anda dan klien akan melihat objek tersebut pada waktu yang bersamaan.
·         Ulangi prosedur searah jarum jam pada sudut 45 derajat, periksa lapang pandang superior, inferior, temporal, dan nasal. Ketika menguji lapang pandang temporal, anak akan mengalami kesulitan menggerakkan objek sampai cukup jauh sehingga anda dan klien tidak dapat melihatnya. Jadi lakukan uji lapang pandang temporal ini dengan meletakkan pensil sedemikian rupa di belakang klien dan di luar lapang pandang klien. Bawa pensil tersebut berkeliling secara perlahan sampai klien dapat melihatnya.

6.      REFLEK PUPIL
-       Pasien disuruh melihat jauh
-       Setelah itu pemeriksa mata pasien di senter / diberi cahaya dan lihat apakah ada reaksi pada pupil. Normal akan mengecil
-       Perhatikan pupil mata yang satunya lagi, apakah ikut mengecil karena penyinaran pupil mata tadi disebut dengan reaksi cahaya tak langsung
-       Cegah reflek akomodasi dengan pasien disuruh tetap melihat jauh

7.      PEMERIKSAAN SENSIBILITAS KORNEA
Tujuan : Untuk mengetahui apakah sensasi kornea normal, atau menurun
Cara Pemeriksaan
Alat : Kapas steril
Caranya :
·         Bentuk ujung kapas dengan pinset steril agar runcing dan halus
·         Fiksasi mata pasien keatas agar bulu mata tidak tersentuh saat kornea disentuh
·         Fiksasi jari pemeriksa pada pipi pasien dan ujung kapas yang halus dan runcing disentuhkan dengan hati-hati pada kornea, mulai pada mata yang tidak sakit.
Hasil
Pada tingkat sentuhan tertentu reflek mengedip akan terjadi.
Penilaian dengan membandingkan sensibilitas kedua mata pada pasien tersebut.

8.      EVERSI KELOPAK MATA
Pemeriksaan untuk menilai konyungtiva tarsalis
Cara Pemeriksaan :
·         Cuci tangan hingga bersih
·         Pasien duduk didepan slit lamp
·         Sebaiknya mata kanan pasien diperiksa dengan tangan kanan pemeriksa.
·         Ibu jari memegang margo, telunjuk memegang kelopak bagian atas dan meraba tarsus, lalu balikkan
·         Setelah pemeriksaan selesai kembalikan posisi kelopak mata. Biasakan memeriksa kedua mata.

9.      PEMERIKSAAN DENGAN OFTALMOSKOP
·         Untuk melakukan pemeriksaan dengan oftalmoskop, tempatkan klien di ruang yang digelapkan atau setengah gelap, anda dan klien tidak boleh memakai kacamata kecuali jika anda sangan miop atau astigmatis. Lensa kontak boleh dipakai oleh anda atau klien.
·         Duduk atau berdiri di depan klien dengan kepala anda berada sekitar 45 cm di depan dan sekitar 15 derajat ke arah kanan garis penglihatan mata kanan klien. Pegang oftalmoskop dengan tangan kanan anda dengan apertura penglihat sedekat mungkin dengan mata kanan anda. Letakkan ibu jari kiri anda di mata kanan klien untuk mencegah memukul klien dengan oftalmoskop pada saat anda bergerak mendekat. Jaga agar telunjuk kanan anda tetap berada di selektor lensa untuk menyesuaikan lensa seperlunya seperti yang ditunjukkan di sini.
·         Instruksikan klien untuk melihat lurus pada titik sejajar mata yang sudah ditentukan di dinding. Instruksikan juga pada klien, bahwa meskipun berkedip selama pemeriksaan diperbolehkan, mata harus tetap diam. Kemudian, mendekat dari sudut oblik sekitar 38 cm dan dengan diopter pada angka 0, berfokuslah pada lingkaran kecil cahaya pada pupil. Cari cahaya oranye kemerahan dari refleks merah, yang harus tajam dan jelas melewati pupil. Refleks merah menunjukkan bahwa lensa bebas dari opasitas dan kabut.
·         Bergerak mendekat pada klien, ubah lensa dengan jari telunjuk untuk menjaga agar struktur retinal tetap dalam fokus.
·         Ubah diopter positif untuk melihat viterous humor, mengobservasi adanya opasitas.
·         Kemudian, lihat retina, menggunakan lensa negatif yang kuat. Cari pembuluh darah retina dan ikuti pembuluh darah tersebut ke arah hidung klien, rotasi selektor lensa untuk menjaga agar pembuluh darah tetap dalam fokus. Karena fokus tergantung pada anda dan status refraktif klien maka diopter lensa berbeda-beda untuk sebagian besar klien. Periksa dengan cermat seluruh struktur retina, termasuk pembuluh darah retina, diskus optikus, latar belakang retina, makula dan fovea.
·         Periksa pembuluh darah dan struktur retina untuk warna, perbandingan ukuran arteri dan vena, refleks cahaya arteriol, dan persilangan arteriovenosa. Mangkuk fisiologis normalnya berwarna kuning-putih dan dapat terlihat.
·         Periksa makula pada bagian akhir karena sangat sensitis terhadap cahaya.

10.  PEMERIKSAAN FISIK MATA PADA ANAK
·         Goyangkan kepala bayi secara perlahan-lahan supaya mata bayi terbuka.
·         Periksa jumlah, posisi atau letak mata
·         Periksa adanya strabismus yaitu koordinasi mata yang belum sempurna
·         Periksa adanya glaukoma kongenital, mulanya akan tampak sebagai pembesaran kemudian sebagai kekeruhan pada kornea
·         Katarak kongenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih. Pupil harus tampak bulat.
·         Terkadang ditemukan bentuk seperti lubang kunci (kolobama) yang dapat mengindikasikan adanya defek retina
·         Periksa adanya trauma seperti palpebra, perdarahan konjungtiva atau retina
·         Periksa adanya sekret pada mata, konjungtivitis oleh kuman gonokokus dapat menjadi panoftalmia dan menyebabkan kebutaan
·         Apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami sindrom down.



BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Indera penglihatan yang terdapat pada mata (organ visus) terdiri dari organ okuli assesoria (alat bantu mata) dan oculus (bola mata). Saraf indera penglihatan, saraf optikus (saraf kranial kedua) timbul dari sel – sel ganglion dalam retina, bergabung untuk membentuk saraf optikus.
Indra Penglihatan (Mata) merupakan bagian indera yang fungsinya hanya terbatas pada menerima dan menyiapkan rangsang agar dapat diteruskan ke pusat-pusat penglihatan yang terletak di dalam otak. Mata merupakan organ penglihatan (apparatus visual) yang bersifat peka cahaya (foto sensitif). Mata merupakan yang paling utama, karena dengan mata manusia mampu melaksanakan aktifitas sehari-hari dengan normal.

SARAN
Dengan di serlesaikannya makalah ini, penulis mengetahui bahwa masih banyak kekurangan untuk itu penulis berharap mendapatkan kritik dan saran yang membangun agar dalam pembuatan makalah yang akan datang bisa lebih baik dari yang sekarang, dan semoga dengan membaca makalah ini dapat menambah pengetahuan tentang Indra Penglihatan.










DAFTAR PUSTAKA
Daniael Vaughan, Tailos Absury. 1996 . Oftalmologi Umum Hal 205. Jakarta : Widya Medika.
Smeltzer, Suzanne (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Brunner & Suddart) . Edisi 8. Volume 3. EGC. Jakarta

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar