Glitter Text Maker

Sabtu, 11 Februari 2012

RESUME PARASITOLOGI "NAEGLERIA FOWLERI"

RESUME PARASITOLOGI
NAEGLERIA FOWLERI


OLEH:
Mela Dian Maulidah
NPM:20091420146017

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES BAHRUL ‘ULUM
TAMBAK BERAS
JOMBANG


1.Sejarah  
Naegleria fowleri adalah spesies yang pathogen pada manusia. Spesies ini sebelumnya disebut naegleria gluberi. Kasus pertama ditemukan pada tahun 1965 di Australia dan Florida di AS dan hanya dalam waktu 10 tahun kemudian telah dilaporkan hampir 100 kasus menderita amebic di seluruh dunia. Pada tahun 1978 seorang gadis yang secara teratur berenang di pemandian romawi kuno di Inggris meninggal karena menderita amebic. Pada tahun 1978 juga di Cekoslowakia para peneliti menemukan penyebab epidemi kolam renang, yaitu adanya kantong air yang mengandung ameba tersebut di belakang lubang-lubang dinding kolam yang terhindar dari pengaruh klorin.

2.Hospes dan Nama Penyakit
          Naegleria Fowleri hidup dalam air tawar yang menggenang (kolam,danau), tanah yang terpolusi dengan system pembuangan sampah dan tinja. Spesies protozoa ini termasuk adalah termasuk amoeba yang hidup bebas (free living ameba). Spesies ini dapat menjadi patogen pada manusia dan menimbulkan penyakit yang disebut primary amebic meningoencephalitis. Amuba yang menyebabkan infeksi ini hidup di air yang segar, seringkali pada air yang menggenang di seluruh dunia.
3. Distribusi Geografis
         Kasus-kasus dengan primary amebic meningoencephalitistelah di laporkan dari AS, Belgia, Cekoslowakia, Australia, Selandia Baru, India, Nigeria, Irlandia, Venezuela, Panama, dan Papua Nugini. Naegleria fowleria di isolasi dari kasus kematian tersebut. Ameba ini membunuh hewan percobaan pada beberapa laboratorium pada waktu diinjeksikan intra nasal, intra vena dan intracerebral. Organisme ini tidak membentuk cyste atau flagella dalam tubuh hospes dan vakuolanya berisi sel debris (serpihan sel) dari hospes.
4.Morfologi dan Daur Hidup
          Seperti ameba lainnya, ameba dari spesies ini terdiri atas ektoplasma dan endoplasma. Di dalam endoplasma terdapat 1 inti vesikular dengan kariosom yang besar dan dinding inti yang penuh dengan butir-butir kromatin, selain inti juga ditemukan vakuola kontraktil dan vakuola makanan. Pada genus Naegleria ditemukan tiga stadium yaitu stadium ameboid, flagellata, dan kista.
(1). Stadium ameboid :
Mempunyai bentuk tidak teratur, lonjong atau membulat dengan ukuran rata-rata 29 mikron. Pseudopodium tunggal yang dikeluarkan meluas ke satu arah.
(2). Stadium flagellata :
Mempunyai bentuk lonjong seperti buah per, mempunyai 1 inti vesikular, 1 vakuol kobtraktil ynag terletak pada bagian posterior dan dua flagel yang sama panjang. Fase ini hanya ditemukan beberapa jam saja, kemudian berubah menjadi fase ameboid lagi.
(3). Stadium kista :
Bentuk bulat atau lonjong, mempunyai 1 inti. Berukuran 10 – 14 mikron. Pada dindingnya terdapat beberapa lubang yang digunakan untuk eksistasi. Daur hidup ameba ini belum diketahui dengan jelas.
 Cara infeksi pada manusia diperkirakan melalui hidung pada waktu penderita berenang atau ketika mengambil air wudhu.
5.Patologi dan Gejala Klinis
          Ameba yang masuk melalui hidung menembus ke jaringan otak dan memperbanyak diri dalam jaringan otak. Gejala yang timbul adalah sakit kepala yang hebat di bagian frontal, demam, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, kaku kuduk dan berbagai kelainan sistem susunan saraf pusat. Cairan serebrospinal menjadi purulen dan dapat mengandung banyak sel darah merah,ameba yang bergerak. Biasanya penderita meninggal 4 sampai 5 hari sesudah gejala timbul.
6.Diagnosis
Diagnosis dibuat dengan menemukan ameba dalam cairan serebrospinal, dalam eksudat purulen dan pada jaringan nekrotik pada bedah mayat. Pada autopsi dapat ditemukan ameba dalam jumlah besar di lesi jaringan otak. Spesies Naegleria dalam jaringan hanya ditemukan dalam bentuk trofozoit, tanpa adanya kista.
7.Pengobatan
Obat yang memberi harapan adalah Amfoterisin B. Metronidazol, klorokuin, emetin dan berbagai antibiotika tidak efektif untuk pengobatan meningitis oleh karena Naegleria. Hanya ada 2 penderita yang pengobatannya berhasil, yaitu seorang dengan amfoterisin B 1 mg/kg berat badan/hari IV dan 0,1 sampai 1,0 mg intratekal 2 kali sehari; seorang lagi diberi amfoterisin B dengan dosis tinggi ditambah mikonazol dan rifampisin. Prognosis Penderita primary amebic meningoencephalitis biasanya meninggal.
8.Pencegahan
Karena ameba ini hidup di air tawar, tanah dan tinja, maka penyebaran mungkin di seluruh dunia. Dengan ditemukannya penderita di beberapa tempat pada musim panas, timbulnya penyakit mungkin berhubungan dengan musim, karena ameba ini bersifat termofilik. Oleh Karena itu sebaiknya pencegahan yang harus dilakukan adalah menghindari genangan air  dan tanah yang telah terkontaminasi oleh limbah pabrik dan meminimalisir kebiasaan berenang.


2 komentar:

  1. keren nih tugasnya!

    mau tanya sist, apakah udah ada kasus ttg penyakit ini di Indonesia?
    trus ttg tindakan pencegahannya, kasihan ya yang hobi berenang kayak ane. "harus meminimalisir kebiasaan berenang"

    BalasHapus
  2. Terimakasih. Teks ini cukup informatif. Saya, dokter kandungan, kebetulan menonton tayangan ttg infeksi parasit ini pada anak 8 tahun di AS (chanel Animal Planet) yg berakhir fatal. Lalu saya browsing dan menemukan teks ini. Terimakasih, saya sangat menghargai TS

    BalasHapus