Glitter Text Maker

Jumat, 01 Juni 2012

CVA


LAPORAN PENDAHULUAN (L.P)
ASUHAN KEPERAWATAN 
CVA (Cerebro Vascular Acident)

A.  KONSEP DASAR

 I.      PENGERTIAN

CVA adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progresi cepat, berupa defisit neurologis fokal/global, yang berlangsung 24 jam atau lebih/langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran otak non traumatik (Ilyas, 1994)
Dalam pembagian CVA menurut WHO terdiri dari 2 kelompok besar yaitu :
  1. CVA Bleeding adalah disfungsi otak fokal yang akut yang disebabkan oleh pendarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan karena trauma kapitis, tapi disebabkan karena pecahnya pembuluh darah arteri, vena, dan kapiler.
  2. CVA infark adalah gangguan disfungsi otak baik sinistra atau dekstra dengan sifat antara lain :
-          Permulaan cepat dan akut atau sub akut.
-          Terjadi kurang lebih 2 minggu
-          CT Scan terdapat bayangan infark setelah 3 hari.


II.      ETIOLOGI
1.      Infark otak (80 %)
·         Emboli
a.       Emboli kardiogenik
-          Fibrilasi atrium atau aritmia lain.
-          Trombus mural ventrikel kiri.
-          Penyakit katub mitral atau aorta.
-          Endokarditis (infeksi atau non infeksi)
b.      Emboli paradoksal (foramen ovale paten)
c.       Emboli arkus aorta
2.      Perdarahan Intra Serebral (15%)
-          Hipertensis
-          Malformasi arteri – vena
-          Angiopati amiloid
3.      Perdarahan Sub Araknoidi (5%)
a.       Trombosis sinus dura.
b.      Diseksi arteri karotis atau vertebralis
c.       Vaskulitis sistem syaraf pusat.
d.      Penyakit moya – moya (oklusi arteri besar intrakranial yang progresif)
e.       Migren (sakit kepala sebelah)
f.       Kondisi hiperkoagulasi
g.      Penyalahgunaan obat (kokain atau amfetamin)

III.      PATOFISIOLOGI

-          CVA Bleeding adalah perdarahan yang disebabkan oleh karena pecahnya arteri, pembuluh darah kapiler atau vena dalam parenkim otak oleh karena lemahnya pembuluh darah akibat hipertensi dan arterio sklerosis.
-          CVA infark adalah penyumbatan pembuluh darah otak akibat lepasnya embolus dan jantung ke sumber lain.

IV.      GEJALA KLINIS
Gejala klinis tergantung dari bagian otak yang terkena, yang ditandai dengan gejala sebagai berikut :
-          CVA Bleeding gejala klinis antara lain :
1.      Tidak ada TIA (Transient Ischemic Attak)
2.      Gejala awal biasanya pada waktu melakukan kegiatan.
3.      Sakit kepala kadang – kadang hebat
4.      Perubahan yang cepat dari defisit neurologis termasuk penurunan tingkat kesadaran sampai koma, biasanya terdapat hipertensi baik sedang maupun berat.
5.      CT-Scan tampak jelas adanya perdarahan
6.      Lequor cerebri spinalis berdarah.
-          CVA Infark gejala klinis antara lain :
1.      Permulaan akut atau sub akut
2.      Saat kejadian tergantung dari asal emboli
3.      Kesadaran baik atau sedikit menurun
4.      Nyeri kepala bisa adanya oedema
5.      CT-Scan tampak adanya oedema
6.      Pungsi lumbal tekanan, warna, jernih, jumlah sel eritrosit sedang.

V.      KOMPLIKASI
-          Hipoxia
-          Kekakuan sendi
-          Lumpuh

VI.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
-          Darah lengkap
-          Urine
-          CT-Scan
-          Fisio terapi
-          EKG

VII.      PENATALAKSANAAN
-          Penatalaksanaan CVA Bleeding
1.      Observasi tanda – tanda vital
2.      Observasi kesadaran dengan GCS dan tanda-tanda TIK meningkat.
3.      Keseimbangan cairan dan elektrolit
4.      Lakukan rehabilitasi medik secepat mungkin
5.      Kandung kemih
6.      Kulit hati – hati terjadi dekubitas.
-          Penatalaksanaan CVA Infark dan terapy.
1.      Tekanan darah : bila tensi lebh tinggi biasanya jangan diberikan obat anti hipertensi pada hari pertama, cukup dengan obat-obatan anti oedema. Kalau tekanan darah tinggi terutama bila diatol lebih dari 130 mmHg, obat-obatan hipertensi jangan diturunkan sampai kurang dari 150 – 180 mmHg sistolik dan 90 mmHg diastol.
2.      Hal-hal lain bila demam tinggi lakukan kompres alkohol atau es pada penderita CVA yang berada dalam keadaan koma diabetek, berikan insulin untuk memberantas komanya dan berikan juga infus gliserol 500 cc/24 jam.
3.      Cegah dan obatai kegagalan jantung gangguan irama infark miokard. Pengobatan : nicholin, mersitropil, amoxan, amoxilin.

B. ASUHAN KEPERAWATAN

Merupakan metode yang digunakan untuk memecahkan masalah dalam upaya memperbaiki atau memelihara klien sampai ketahap optimal melalui suatu pendekatan yang sistematis untuk mengenal klien agar memenuhi kebutuhannya.

I.       PENGKAJIAN
Pengkajian adalah merupakan tahap awal dari proses perawatan yaitu suatu pendekatan yang sistematis dimana sumber data, diperoleh dari klien, keluarga klien.
1.      Anamnesia/Identitas.
Meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, bangsa/suku, pendidikan, bahasa yang digunakan dan alamat rumah.
2.      Keluhan Utama.
Biasanya pada klien CVA mengeluh sakit kepala, kadang-kadang nyeri, awalnya bisa pada waktu melakukan kegiatan.
3.      Riwayat Penyakit Sekarang.
Klien biasanya datang dengan keluhan pusing yang sangat, parase pada extrimitis, yang didapat sesudah bangun tidur baik sinistra atau dextra, gangguan fokal, menurunnya sensasi sensori dan tonus otot biasanya tanpa disertai kejang, menurunnya kesadaran seperti CVA Bleeding.
4.      Riwayat Penyakit Dahulu.
Pada klien dengan CVA didapat hipertensi, aktivitas dan olahraga yang tidak adekuat, kadang klien juga cidera kepala di masa mudah dan punya riwayat DM.
5.      Riwayat Kesehatan Keluarga.
Dari pihak keluarga resesif mempunyai riwayat DM dan hipertensi atau punya anggota keluarga yang punya atau pernah mengalami CVA Bleeding maupun infark
6.      Riwayat Kesehatan Lingkungan.
Resiko tinggi terjadi CVA berada pada lingkungan yang kurang sehat seperti gizi yang jelek, aktivitas yang kurang adekuat dan pola hidup yang kurang sehat



7.      Riwayat Psikososial.
Riwayat psikososial sangat berpengaruh dalam psikologi klien dengan timbul gejala-gejala yang dialami dalam proses penerimaan terhadap penerimaan terhadap penyakitnya.

II.  POLA FUNGSI KESEHATAN

1.      Pola Persepsi dan Tatalaksana Hidup Sehat
      Perubahan penatalaksanaan yang dapat menimbulkan masalah dalam kesehatan.
2.      Pola Nutrisi dan Metablisme
      Biasanya pada klien dengan CVA makanan yang disukai atau tidak disukai oleh klien, mual – muntah, penurunan nafsu makan sehingga mempengaruhi status nutrisi
3.      Pola Eliminasi.
      Kebiasaan dalam BAB didapatkan ,sedangkan kebiasaan BAK akan terjadi retensi, konsumsi cairan tidak sesuai dengan kebutuhan.
4.      Pola aktivitas dan latihan
      Biasanya klien dengan CVA tidak bisa melakukan aktivitas, badan terasa lemas, muntah dan terpasang infus.
5.      Pola tidur dan istirahat.
      Biasanya klien sebelum tidur, lama tidur siang dan malam karena nyeri kepala yang hebat maka kebiasaan tidur akan terganggu.
6.      Pola  persepsi dan konsep diri.
      Didalam perubahan konsep diri itu bisa berubah bila kecemasan dan kelemahan tidak mampu dalam mengambil sikap.
7.      Pola sensori dan kognitif
      Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri.
8.      Pola reproduksi sexual
      Pada pria reproduksi dan seksual pada klien yang telah/sudah menikah akan terjadi perubahan
9.      Pola hubungan dan peran
      Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan peran dan peran serta mengalami tambahan dalam menjalankan perannya selama sakit.
10.  Pola penanggulangan stress
      Stress timbul apabila seorang klien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya.
11. Pola tata dan kepercayaan.
      Timbulnya distress dalam spiritual pada klien, maka klien akan menjadi cemas dan takut akan kematian, serta kebiasaan ibadahnya akan terganggu.

III. PEMERIKSAAN FISIK

  1. Keadaan umum
Biasanya klien CVA mengalami badan lemah, nyeri kepala, penurunan kesadaran, tensi meningkat, suhu, nadi, pernafasan.
  1. Kepala dan leher
Keadaan rambut, kepala simetris atau tidak, ada tidaknya benjolan kepala, panas atau tidak, maka simetris atau tidak, keadaan sclera, puppi reflek terhadap cahaya, hidung simetris atau ada tidaknya polrip, epistaksis mulut, leher simetris serta ada pembesaran kelenjar tiroid
  1. Thorax dan abdomen
Biasanya klien CVA tidak terdapat kelainan, bentuk dada simetris.
  1. Sistem respirasi
Apa ada pernafasan abnormal, tidak ada suara tambahan dan tidak terdapat pernafasan cuping hidung
  1. Sistem kardio vaskuler
Pada umumnya klien dengan CVA ditemukan tekanan darah normal/meningkat akan tetapi bisa didapatkan Tachicardi atau Bradicardi
  1. Sistem integument
Pada umumnya klien CVA turgor kulit menurun, kulit bersih, wajah pucat, berkeringat banyak
  1. Sistem eliminasi
Pada sistem eliminasi urine dan alvi biasanya tidak ditemukan kelainan
  1. Sistem muskulos keletal
Apakah ada gangguan pada extriminitas atas dan bawah atau tidak ada gangguan
  1. Sistem endoksin
Apakah didalam  penderita CVA ada pembesaran kelenjar tiroid dan tonsil


  1. Sistem persyarafan
Apakah kesadaran itu penuh atau apatis, samnolen dan koma dalam klien CVA


C.  ANALISA DATA

v  Data subyektif            : klien mengalami gangguan rasa nyaman (pusing), mual,
  muntah
v  Data obyektif  :  -  keluhan umum lemah
-    klien gelisah
-    wajah menyeringai menahan sakit
Masalah : peningkatan TIK
Kemungkinan penyebab : edema cerebral
v  Data subyektif            : biasanya klien mengalami gangguan pada tangan dan kaki
  kiri yang tidak bisa digerakkan/lemas
v  Data obyektif  :  -  keluhan umum lemah
-    terdapat hemiparese sinestra/dextra
-    kesadaran kompos mentis
Masalah : keterbatasan aktivitas
Kemungkinan penyebab : hemiparese

D.    DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan yang muncul pada CVA antara lain :
1.      Resiko tinggi TIK meningkat sampai dengan perdarahan edema serebral ditandai dengan klien pusing, mual/muntah t/t, kesadaran compos mentis
2.      Nyeri sampai dengan luka post trauma
3.      Gangguan sensasi sensori pada extrimitas yang parase
4.      Intolerasi aktivitas sampai dengan parese
5.      Gangguan konsep diri sampai dengan bekas luka post trauma
6.      Cemas sampai dengan penyakit yang lama
7.      Resiko tinggi serangan ulang sampai dengan komplikasi pada penyakitnya
8.      Ketidak efektifan jalan nafas sampai dengan adanya penyumbatan jalan nafas

E.     PERENCANAAN

Dx : I :    resiko tinggi TIK meningkat sampai dengan perdarahan edema serebral ditandai dengan klien pusing, mual/muntah t/t kesadaran compos mentis
·         Tujuan : mencegah terjadinya TIK meningkat
·         Kriteria Hasil   :
-          Keluhan utama klien baik
-          Tidak ada tanda-tanda  meningkat seperti pusing, mual dan muntah
-          Kesadaran compos mentis
-          GCS 456
·         Rencana tindakan
1.      Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga dengan komunikasi terapeutik
-     Rasional : komunikasi terapeutik dapat meningkatkan kooperatif
2.      Ciptakan lingkungan yang tenang
-     Rasional : agar klien dapat bedrest total
3.      Observasi tanda-tanda TIK meningkat (pusing, mual, muntah, dll)
-     Rasional : mengantisipasi terjadinya TIK meningkat secara dini
4.      Anjuran kepada keluarga agar klien bedrest total
-          Rasional : dengan bedrest total diharapkan untuk mencegah terjadi
     nya TIK meningkat
5.      Kolaborasi dengan tim kesehatan (dokter) dalam pemberian obat-obatan
-          Rasional : melaksanakan fungsi interdependent

F.     PELAKSANAAN

Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana tindakan meliputi beberapa bagian yaitu validasi, rencana keperawatan memberikan asuhan keperawatan dan pengumpulan data. (Lismidar. 1990)

G.    EVALUASI

Evaluasi juga merupakan tahap awal dari suatu proses perawatan yang merupakan perbandingan yang simetris dan terencana tentang kesehatan pasien tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara melibatkan pasien dan sesama tenaga kesehatan. (Efendi. 1995)


DAFTAR PUSTAKA

Arif Mansoer, dkk.2000 Kapita Selekta Kedokteran Edisi Tiga Jilid kedua. FKUI
Candra B. 1987, Cerebra Vaskuler Accident dalam Neurologi Klinik PT, Bina Indra Karya, Jakarta.
Djoenaidi Widjasa, 1994, Lab UPF dalam Pedoman Diagnosa dan Terapi Penyakit Syaraf Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya.
Monica Ester D, Skp, 1997, Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat, EGC.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar